Rabu, 03 November 2010

Antara Kata Hati dan Nafsu

Hidup ini mempunyai dua pilihan yang bertolak belakang. Ada hitam dan ada putih, ada siang dan ada malam, ada anugerah dan ada bencana, ada senyuman dan ada tangisan, ada kebahagiaan dan ada penderitaan, ada persahabatan dan ada permusuhan, ada cinta dan ada benci. Setiap langkah yang kita tempuh penuh dengan dua pilihan yang saling bertentangan. Terserah kita mau memilih yang mana. Hanya kita sendiri yang tahu mana yang terbaik untuk diri kita.

Setiap manusia mempunyai hati, sebuah anugerah dari Sang Maha Pencipta yang harus kita syukuri. Dengan hati manusia bisa mengerti, merasakan, meraba, melihat, dan memberikan petunjuk mana yang benar dan mana yang salah. Namun terkadang hati tak pernah kita akui keberadaannya tapi justru nafsu yang selalu kita agungkan. Coba saja telaah diri kita atau orang di sekitar kita. Betapa banyak dari kita atau mereka yang justru bangga terhadap dosa-dosanya. Tengok saja berapa banyak pria/wanita yang merasa bangga karena sudah mengencani pasangannya dan mengajaknya ML (Making Love). Atau mungkin Anda salah satunya. Dengan rasa bangganya mereka mengumbar cerita kesana-kemari seolah-olah perbuatannya itu layak mendapatkan apresiasi lantas mereka bilang ke orang yang belum pernah melakukannya, “Kamu itu kuno!”.

Ironis sekali sebuah dosa yang diagung-agungkan telah menjadi kebiasaan bahkan budaya di masyarakat kita. Inilah yang menjadikan hati tak lagi memiliki fungsinya. Bukan fungsinya secara fisik akan tetapi lebih kepada fungsi spiritualnya yakni sebagai petunjuk untuk mencapai kepada tujuan kita hidup di dunia ini. Dengan hati pula seorang manusia buta bisa melakukan aktivitas melampaui orang yang normal sekalipun.

Kawan! Jika mungkin kita pernah bimbang dalam menentukan pilihan, maka gunakanlah hati kita untuk menjawabnya. Mengapa? Karena hati tak pernah berbohong lain dengan nafsu yang selalu menjerumuskan kita. Nafsu adalah iblis yang bersemayam dalam hati. Ketika kita bisa menguasai nafsu, maka hati akan memiliki fungsi tertingginya.

Lantas bagaimana membedakan mana nafsu dan mana kata hati?
Mudah saja sebenarnya membedakannya. Hati selalu mengajak kita kepada kebaikan tapi nafsu selalu memberikan petunjuk ke arah keburukan. Tak sulit bukan membedakannya cukup sederhana. Tapi tak sesimpel itu disaat kita dihadapkan pada keadaan yang sebenarnya. Memang benar tapi paling tidak itu bisa kita jadikan pedoman untuk menentukan mana kata hatimu dan mana nafsumu.

Nafsu terlalu pandai untuk mengubah dirinya menjadi sosok yang seolah-olah adalah jalan kebenaran untuk kita. Dia membuat kita tak bisa mendengar kata hati yang sesungguhnya sehingga mungkin akan muncul beberapa pilihan yang sepertinya sama namun hakekatnya berbeda. Saat kita berada pada keadaan ini mungkin kita baru menyadarinya. Mari kita coba ambil contoh.

Rita baru saja jadian dengan seorang cowok yang bernama Rio. Mereka memiliki agama yang berbeda. Rita beragama Islam sementara pacarnya beragama Kristen Protestan. Rita tahu keyakinan yang berbeda akan menjadi bumerang bagi hubungan mereka nantinya namun ia tak mempedulikannya. Bagi dia cinta adalah sesuatu yang harus diperjuangkannya meski sampai ke titik darah yang penghabisan. Rio adalah seorang PNS dan sudah memiliki jabatan yang cukup membanggakan. Meski awalnya Rita tidak begitu suka dengan Rio tapi berkat kebiasaan serta masa depan Rio yang menjanjikan, Rita pun mengabaikan semua itu dan berupaya keras untuk mencintai Rio. Seiring berjalannya waktu benih-benih cinta itu pun tumbuh di hati Rita bahkan melebihi cinta Rio kepadanya. Jarak yang jauh tak menjadikan hubungan mereka terputus. Mereka selalu melakukan kominikasi dan meski hanya bertemu dua kali dalam setahun namun Rita menjalani semua itu dengan wajah ceria.

Enam tahun sudah hubungan Rita dan Rio berjalan. Sebuah waktu yang cukup untuk bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun perbedaan keyakinan itu selalu saja menjadi bumerang yang tidak memungkinkan mereka untuk menuju ke kursi pelaminan. Rita bersikeras tidak akan berpindah agama begitu juga dengan Rio yang tetap teguh pada keyakinannya. Hubungan itu pun berjalan seperti biduk kecil yang berjalan mengikuti air yang mengalir tanpa ada kepastian kemana ia akan berlabuh hingga suatu ketika biduk kecil itu terhempas gelombang yang sangat dahsyat. Gelombang tsunami dengan kekuatan 99,9 Skala Richter lebih dahsyat dari gelombang tsunami yang pernah melanda Aceh. Hubungan mereka terpaksa harus diakhiri karena Rio telah melakukan perselingkuhan dengan wanita lain dan si wanita tersebut telah mengandung sebuah janin. Berita itu terdengar ke telinga Rita dari bibir Rio sendiri. Hati Rita hancur kala itu bagai tercabik-cabik jutaan sembilu. Ia seakan tak percaya akan apa yang dikatakan kekasihnya itu. Ia sempat berpikir Rio hanya bercanda saja tapi ternyata semua itu memang kenyataan yang harus dihadapi Rita. Kini Rio telah menikahi sang gadis yang dihamilinya dan Rita larut dalam kesedihannya bersama kenangan indah bersama Rio. Tak ada obat bagi luka hatinya yang sudah sangat parah itu. Tak ada pria yang lebih hebat di matanya selain si Rio. Meski ia telah disakiti, namun Rita tak bisa menyangkal Rio adalah sosok yang didambakannya.

Mari kita telaah cerita di atas mana yang kata hati dan mana yang nafsu.

Pertama, saat awal-awal menjalani hubungan sebenarnya kata hati Rita sudah memberitahu bahwa perbedaan keyakinan akan menjadi bumerang bagi hubungan mereka nantinya. Tapi Rita tak menggubris kata hatinya dan memilih mendengarkan bisikan nafsu.

Kedua, pada dasarnya Rita tidak menyukai Rio. Hatinya sudah merasakan ada sesuatu yang tidak ia suka dari diri Rio tapi ia tak mempedulikan kata hatinya. Ia masih saja melanjutkan hubungan tersebut.

Ketiga, Rita mempertahankan hubungan tersebut hanya karena Rio telah mapan dalam arti mempunyai perkerjaan dan penghasilan yang menggiurkan, Kembali nafsunya akan harta dunia menjadikannya buta dalam melihat pribadi seseorang.

Keempat, Hubungan yang lama itu akhirnya menumbuhkan benih-benih cinta di hati Rita. Tapi benarkah seperti itu atau bukannya tidak mungkin itu adalah nafsu yang justru mengubah diri sebagai sosok cinta lantas hadir kepada Rita dan memperkenalkan diri sebagai ‘cinta’. Dan hati yang dari awal sudah tidak pernah dianggap keberadaannya justru tak pernah merasakan cinta itu sendiri.

Kelima, Rio meninggalkan Rita dan menikahi wanita lain dan menyisakan luka yang dalam di hati Rita. Bukannya menggunakan hatinya sebagai petunjuk dalam melangkah tapi Rita justru menyakiti hatinya sendiri. Bukan Rio yang melukai hati Rita tapi Rita sendirilah yang sedari awal sudah melukai hatinya sendiri.

Itu hanya satu contoh peristiwa yang benar-benar dialami oleh seseorang yang tidak mendengarkan kata hatinya. Mungkin salah satu pembaca blog ini adalah subyek pelakunya. Masih banyak berjuta-juta kejadian yang mungkin kita alami dimana kita dihadapkan pada dua hal yang berbeda.

0 komentar:

Poskan Komentar